Jumat, 31 Mei 2013

Selamat Ulang Tahun Surabaya ke-720

Tanggal 31 Mei ya... :))
hmm, tanggal kelahirannya kota kelahiranku ({}) :*
Selamat Ulang Tahun Surabayaku ({{}}) ahhh kangen :( kapan nih aku bisa balik ke Surabaya ?!!
Aku mungkin engga tumbuh gede di Surabaya, aku tumbuh di Waru. Tapi anak Waru sudah nyatu banget sama Surabaya.
Aku lahir di Surabaya, tepatnya di Rumah Sakit Islam (deket Royal Plaza). Pas tanggal 3 April 1997. :'))
Aku bangga lahir di Surabaya. Aku bangga kota Surabaya itu bisa tercantum di akta kelahiran ku :D
anak anak perantauan yang baru ngerasain hidup di Surabaya aja sudah mengaku-ngaku anak Surabaya dan BANGGA banget di Surabaya. Gimana sama AKU? lebih bangga lagi.




Surabaya ku ({{}}) selamat ulang tahun ke-720. Makin Hijau dan Bersih ya. :*
Keep Calm and Say Jancuk ya Arek Suroboyo.
#suroboyo720 #surabaya720 #surabaya :*
Suro iku Wani, Boyo iku Bahaya. Arek Suroboyo Wani ngadepi Bahaya *BONEK*

Surabaya, Bandung, Kita dan Kepergianmu



          “Itu pacarmu kak?” tanya Ririn kepada Dimas sambil menunjuk ke arah seeorang cewek yang berada lima meter dari jarak mereka berdiri.
          “Iya, itu pacarku dek” jawab Dimas dengan tampang polos.
          “Cantik kak. Dari wajahnya keliatannya dia anak yang baik dan super pengertian” jawab Ririn sambil memandangi wajah cewek itu ddari kejauhan.
            “Kamu mau aku kenalin sama dia?” tanya Dimas menawarkan Ririn.
            “Boleh.” Jawab Ririn.
            Dimas menggandeng tangan Ririn untuk menemui cewek yang dari tadi mereka bicarakan. Mereka berjalan mendekati cewek yang sedang duduk di kursi taman sambil membaca buku.
            “Hai...” Sapa Ririn sambil menorehkan senyum manis di bibirnya.
            Cewek itu menoleh, dia bingung karena tiba-tiba saja ada seorang cewek manis yang tak dia kenal menyapanya. “Hai...” Jawab cewek itu.
            Ini adekku, Ren. Namanya Ririn...” ucap Dimas kepada cewek itu. “Rin, ini namanya Rena”. Lanjut Dimas lagi mengenalkan Rena kepada Ririn.
            Ririn mengulurkan tangannya, tangan itu disambut hangat oleh Rena – cewek tadi. “Ririn” ucap Ririn sambil tersenyum kecil.
            “Rena” jawab Rena dengan membalas senyum Ririn.
            Ririn menghela nafasnya, seperti ada yang dia sembunyikan. Dia seperti menahan air matanya keluar dari tempat persembunyiannya. Dia tak ingin air mata itu terlihat membendung di matanya. “Kakak pacarnya Kak Dimas kan? Perhatiin makannya ya kak, dia susah banget disuruh maem. Udah gitu dia juga suka nongkrong sampe’ malem. Kakak perhatiin yah.”  Ucap Ririn. Lalu dia melepaskan tangannya dan pergi meninggalkan Rena dan Dimas.
            Rena masih terbelalak dengan ucapan Ririn. Ditambah lagi Ririn langsung pergi begitu saja setelah mengatakan itu. Rena langsung
berdiri dan menoleh pada Dimas “Dim, apa-apaan ini? Kok dia bilang aku pacarmu? Padahal kan kita cuma temen”. Tanya Rena.
            “Aku sengaja bohongin dia kok”. Jawab Dimas dengan memadang arah lain.
            “Gak punya perasaan banget. Kenapa kamu bohongin dia?” tanya Rena. Dia memang belum mengenal Ririn tapi dia juga seorang cewek, dia tau apa yang dirasakan Ririn.
            “Aku sakit hati sama dia. Aku ngerasa diPHP, ya udah sekalian aja aku tunjukin kalau aku ngga bakal ngejar dia lagi. Dipikir ngga capek apa ngejar dia melulu” jawab Dimas dengan nada agak emosi.
            “kamu sayang sama dia? Kenapa kamu ngerasa diPHP? Kalau kamu emang sayang kenapa kamu tega bohongin dia?” tanya Rena seolah sedang mengintrogasi Dimas.
            Dimas memandang arah lain, dia tidak berani memandang Rena – takut air matanya menetes tiba-tiba di depan Rena. “Kamu bayangin deh, Ren. Misal kamu deket sama cowok terus tuh cowok bilang kalau sayang kamu.” Dimas berhenti melanjutkan kata-katanya.
            “terus lanjutannya gimana?” Tanya Rena sambil mengambil langkah untuk bisa menatap mata Dimas.
            Dimas sedikit risih kalau ditatap oleh Rena karena Rena bisa saja langsung menebak bagaimana isi hatinya setelah cewek berambut panjang itu menatap matanya. Tapi kini dia tidak peduli kalau Rena tahu bagaimana perasaannya karena dia benar-benar butuh tempat untuk mencurahkan semua perasaannya.
“Jangan bayangin itu deh, coba aja kamu bayangin kamu di posisiku sekarang ini, Ren. Aku deket sama Ririn udah dari waktu aku SMA kelas dua, aku kenal dia karena kakaknya itu sahabat deketku sewaktu SMA.” Dimas lalu duduk di kursi yang tadinya diduduki oleh Rena. “Lama banget aku PDKT sama dia, aku sayang sama dia, dia juga bilang kalau dia sayang aku. Aku udah nembak dia berulang kali tapi apa coba jawabannya? Dia terus aja nolak aku, Ren. Dia bilang kurang yakin sama perasaanku. Terus buat apa dia bilang sayang aku kalau selalu berujung penolakkan gini?” Dimas lalu menutupi wajah dengan kedua tangannya. Ingin rasanya menangis tapi dia terlalu malu untuk menangis di depan Rena, sahabat kecilnya dulu.
Rena mengelus bahu Dimas seolah menyuruh Dimas untuk bersabar dan tetap kuat menghadapi masalahnya.
Dimas melepaskan kedua tangannya, pandangannya mengarah lurus ke depan. “Udah hampir empat tahun aku PDKT sama dia. Tiap ketemu sama smsan pun udah persis banget kaya’ orang pacaran beneran, bedanya aku sama dia belum punya status pacar. Salah kalau aku minta kepastian sama dia?” Dimas lalu menoleh ke Rena yang berdiri di depannya seolah berharap Rena memiliki jawaban yang pas sesuai dengan hatinya.
“Nggak salah sih, Dim. Semua orang juga nggak mau kalau harus ngejalanin hubungan tanpa status gitu, Armada aja bilang ku tak akan terus jalani tanpa ada ikatan pasti antara kau dan aku. Dan kata-kata itu menurutku udah ngewakilin kata hatinya setiap orang sih.” Rena lalu duduk di sebelah Dimas. “Tapi ada juga sih yang rela nggantung demi hubungan gak pasti gitu”
“Kaya aku?” tanya Dimas sambil tersenyum kecil.
“Kalau kamu sih rela nggantungnya itu dulu, sekarang udah nyerah.” Rena lalu menoleh perlahan ke arah Dimas. Dan Dimas menoleh ke arah Rena. Rena menatap mata Dimas dalam-dalam. “Aku tau kamu sayang Ririn, cuma kamu udah capek kalau harus ngambang terus. Aku juga yakin kalau kamu udah ngedapetin status itu, kamu pasti bakal ngejagain status itu sampe’ kapanpun – sebisamu. Seharusnya sih kamu nggak perlu bohongin dia, Dim.”
Dimas terdiam. Ucapan Rena memang benar adanya. Dimas memandang ke depan lagi “Kamu bener sih. Awalnya niatku bohongin dia cuma pengen dia nyesel udah ngelepasin aku sampe’ akhirnya aku punya cewek sekarang.”
Rena tersenyum kecil. “Kamu lihat matanya Ririn nggak tadi? Waktu dia seolah-olah nitipin kamu ke aku. Kelihatan banget kalau hatinya itu lagi diguncang, ditambah lagi ada badai yang ikut memporak porandakan hatinya.”
Dimas cuma bisa tersenyum kecil mendengar bahasa Rena yang sok puitis gitu. “Terus aku harus gimana? Semua udah terjadi, Ren.”
“Nggak ada yag terlambat, Dim. Kamu temuin gih dia, jelasin semuanya. Aku yakin dia bisa terima penjelasanmu”. Jawab Rena.
*****
Dimas bingung harus bagaimana, apa dia harus ikutin semua saran Rena untuk jujur dengan Ririn? Apa justru dia biarin ini berlalu dan mengalir seiring berjalannya waktu.
Keesokkan paginya. Dimas sudah berdiri di depan pintu rumah Ririn, dia ragu untuk mengetok pintu itu. Perlahan dia angkat kepalan tangannya untuk mengetok pintu rumah tersebut. Hanya saja sebelum kepalan tangan Dimas itu mendarat, pintu itu sudah terbuka terlebih dahulu.
Terlihat sosok Ririn di balik pintu itu sedang mengurus kopernya. Dan sesekali dia mengusap air matanya yang mau menetes. Dimas tekejut melihat Ririn menangis dan membawa koper. “Lho, Rin. Mau kemana? Kok kamu nangis?” Tanya Dimas.
Ririn terkejut melihat Dimas ada di depan pintu rumahnya. “Aku mau ke Bandung kak”. Jawab Ririn seadanya.
“Kok tumben kamu nggak bilang aku kalau mau ke Bandung? Terus kenapa kamu pake’ nangis sih, Rin?” Tanya Dimas. Kali ini Dimas mencoba memahami perasaan Ririn lebih dalam lagi dari sebelumnya.
“Aku bingung!” Jawab Ririn dengan suara sedikit dikeraskan.
Lho? Kamu kalau ada masalah bilang dek. Cerita sama aku, aku selalu ada buat kamu”. Dimas mencoba untuk meredam emosinya dulu saat ini.
“Udah dulu deh Kak. Waktunya mepet nih, takutnya kalau aku ketinggalan pesawat”. Ririn mengangkat kopernya dan berjalan ke pagar rumahnya.
Dimas mengejar Ririn. Sebelum Ririn keluar dari pagar rumahnya, Dimas raih tangan Ririn. Dia peluk Ririn dari belakang. “Dek maafin aku kalau kejadian kemarin itu bikin kamu sakit. Maaf”. Ucap Dimas.
Air mata Ririn makin deras. Dia melepaskan pelukan Dimas lalu membalikkan badannya “Aku sakit kalau kamu sakit. Aku bahagia kok selama kamu bahagia, jangan khawatirkan perasaanku ya”. Jawab Ririn sambil tersenyum kecil. Lalu dia memasuki taksi yang baru saja berhenti di depan pagar rumahnya.
*****
Dimas seperti kehilangan cahayanya. Dia tak tau harus kemana dia pergi sekarang, haruskah pulag ke rumah dan menikmati kepergian Ririn? Memang Ririn tak selamanya pergi ke Bandung, hanya saja ada rasa takut yang mencengkram hati Dimas. Ya, Dimas takut setelah Ririn pulang dari Bandung, Ririn akan berubah – terutama perasaannya kepada Dimas.
Tibalah Dimas di pinggiran jembatan Suramadu. Selat Madura airnya keruh, sekeruh hati Dimas saat ini. Ingin rasanya Dimas menangis dan berteriak di pagi ini. Tapi dia sadar bukan di tempat seperti ini di meluapkan perasaanya.
“Argghhhh!!!” Dimas berteriak kecil.
“Kurang keras teriaknya”. Ucap seorang cewek yang berdiri beberapa langkah di samping kiri Dimas.
Dimas seperti mengenali betul suara itu. Dia menoleh ke asal suara tadi. “Rena?” terkejut melihat Rena karena lagi-lagi gadis inilah yang akan mengetahui beban pikirannya. “Ngapain kamu disini?” Tanya Dimas.
Rena menunjukkan kamera DSLR miliknya. “Motret selat ini, siapa tau setelah aku tua nanti selat ini bakal bening. Terus aku bandingin sama hasil potretanku yang sekarang”.
“Hah ngaco’ kamu!” Jawab Dimas sambil tersenyum sinis. Sepertinya ucapan Rena tidak masuk akal sekali.
Rena hanya tersenyum kecil. “Kamu sendiri ngapain teriak-teriak disini?”
Dimas terbelalak. “Aku….” Dia ragu untuk melanjutkan ucapannya.
Rena berjalan mendekati Dimas. “Aku tau”
“Sok tau!” Jawab Dimas sinis.
“Kita mungkin nggak sedekat dulu, Dim. Tapi aku kenal kamu dari kita kecil. Inget, dulu kita itu sahabat”
“Jangan samain aku sama waktu aku kecil!” Dimas seolah benci kalau harus diingatkan masa kecilnya bersama Rena.
Rena tetap tersenyum walaupun dia tahu kalau Dimas sudah tidak ingin Rena masuk di dalam hidupnya lagi tapi apa daya, Rena sudah menganggap Dimas sebagai adiknya. Sebenci apapun Dimas kepadanya, Rena tidak mau membiarkan Dimas menyimpan masalahnya sendiri.
“Di mataku, kamu masih sama kaya’ dulu kok. Sukanya teriak-teriak nggak jelas kalau lagi ada masalah. Masalahmu makin runyam kan, Dim?” tanya Rena sambil tetap terus menatap mata Dimas karena hanya dengan menatap mata Dimas dia bisa melihat semua yang dirasakan Dimas.
“Jangan tatap aku! Kenapa dari dulu kamu itu selalu bisa tau perasaanku dengan ngeliatin mataku. Aku benci kamu tau perasaanku, sebenarnya kemarin itu aku nggak mau kamu ikut masuk di dalam masalahku. Tapi yang aku kenal di taman kemarin cuma kamu doang!” Dimas seolah melampiaskan semua emosinya ke Rena, ditambah dulu memang ada masalah dengan Rena.
Rena terkejut, sakit sebenarnya mendengar Dimas mengatakan benci. Rena menghela nafasnya, dia tetap memberikan senyum meskipun ucapan Dimas sudah menyambar hatinya barusan.
Dimas menatap mata Rena. Dia tahu kalau Rena sakit, walau sudah lama Dimas tidak dekat dengan Rena tapi dia masih tahu betul hal yang membuat Rena sakit – mendengarkan kata benci dari orang terdekatnya. “Maaf, Ren. Kebawa emosi”
Rena menggelengkan kepalanya dengan perlahan. Dia mencoba melupakan ucapan Dimas yang menyakitkan tadi. “Ikut aku yuk, Dim.”
Di mata Dimas Rena masihlah Rena yang dulu. Rena yang selalu ngerti dan sabar dengan Dimas. Dimas tersenyum kecil “Kemana?”
“Ikut aja deh. Yuk ah..”
“Oke, tapi jangan ke tempat yang aneh-aneh lho
“Bawel” jawab Rena dengan tampang polos.
Dimas dan Rena pun menaiki sepeda motornya masing-masing. Dimas  mengikuti Rena yang memimpin perjalanan. Sampailah di perbatasan Surabaya dan Sidoarjo terus dan terus melaju hingga sampailah di kali Porong. Dimas menyusul Rena, kini sepeda motor mereka berdampingan.
Dimas membuka kaca helmnya. “Kamu mau ngajakin kemana sih?” tanyanya pada Rena sambil terus konsentrasi dengan perjalanannya.
Rena pun membuka kaca helmnya juga. “Pokonya deket pacet”.
Dimas mengerem sepada motornya, Rena pun juga mengerem sepeda motornya. “Kenapa berhenti, Dim?” Tanya Rena bingung.
“Ngapain ke pacet? Di pacet juga gitu-gitu aja kok.”
“Ke Cangar? Pernah?”
“Mana itu?”
“Makanya ikut.”
Dimas pun melanjutkan perjalanannya bersama Rena. Setelah sampai di daerah Pacet Rena memimpin perjalanan. Karena tujuan mereka adalah Cangar, jadi sesampainya di Pacet mereka mengambil arah jurusan Batu, Malang. Jalanan menuju Cangar dan di Cangar pun menanjak curam, hawanya dingin, terlihat kabut putih menyelimuti daerah situ. Meskipun Rena tidak kuat dengan hawa dingin di daerah ini tapi tak mengurungkan niatnya buat menunjukkan sesuatu yang indah kepada Dimas.
Mereka melewati jalan yang berkelok menanjak curam, di tempat ini ada sekumpulan anak muda yang hunting foto. Rena mengingat kenangannya. Cangar ini adalah tempat kenangan terindah. Sedangkan Dimas baru pertama kali melewati tempat yang dingin tetapi indah seperti ini.
Tibanya di dekat air terjun Cuban Taiyeng. Rena berhenti. Dimaspun ikut berhenti, dia bingung kenapa Rena berhenti? Apa dia ingin mengajaknya untuk putar balik dan lalu pulang.
“Kenapa berhenti, Ren?” Tanya Dimas.
“Apa masih galau?” Tanya Rena balik.
“Tadinya aku lupa lho. Eh, kamu kok malah ngingetin aku. Tapi, udah nggak kebawa beban lah pikiran itu. Thank’s lho, Ren” Jawab Dimas sambil memberi senyumnya hingga lesung pipinya terlihat.
Rena membalas senyum itu. “Sama-sama, Dim”.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka hingga sampai di air terjun Watu Ondo. Saat menuruni jalan terlihat dua jembatan di bawah situ. Sudah lama Rena tidak kesana. Rena terkahir kesana adalah waktu bersama Bagas menelusuri jalanan. Alamnya yang indah dan masih jauh dari polusi membuat Rena yakin kalau tempat ini bisa ngilangin galau.
Rena berhenti di jembatan kedua, Dimas pun juga. Dimas bener-bener tidak tahu harus berkata apa kepada Rena. Perasaan galau yang tadi dia rasakan sudah teralihkan dengan pemandangan alam pegunungan disini.
“Kamu tau tempat asyik kaya’ gini dari siapa, Ren?” Tanya Dimas.
Rena yang sedari tadi terbayang dengan kenangan yang pernah ia lewati disini tidak menghiraukan ucapan Dimas. Rena terus memandangi alam yang terlihat di depannya. Dia masih ingat betul bagaimana perasaannya saat pertama kali datang ke tempat ini.
“Rena?!” Panggil Dimas sambil menggerakan tangannya di depan mata Rena.
Rena terkejut. “Hah? Iya?”
“Mikirin apa sih? Pertanyaanku nggak dijawab”.
“Tanya apa emang?”
“Kamu tau tempat asyik gini dari siapa?”
“Dari…” Rena ragu melanjutkan kalimatnya.
“Dari siapa?” Tanya Dimas lagi karena ucapan Rena itu mengambang. “Oh, pasti dari seseorang yang pengen banget kamu lupain. Betul nggak sih?” Tanya Dimas mulai penasaran.
Rena tertawa kecil melihat Dimas begitu antusias untuk tahu siapa yang memberitahu Rena tempat indah ini. “Hehe dia cowok yang wow banget bagiku. Namanya Bagas. Tapi sayangnya dia udah pergi ninggalin aku, Dim.”
Dimas ikut tertawa kecil juga mendengar kata wow dari mulut Rena, kesannya seperti alay. “Wow kenapa, Ren? Spesial pake telor atau keju nih?”
“Bukan martabak woi!” Jawab Rena sedikit kesal, tapi dia geli juga mendengarkan ucapan Dimas. “Dia itu yang ngasih motivasi buat aku, dia yang ngajarin aku buat nentuin pilihan hidup. Dia ngajarin aku gimana caranya berpikir dewasa.” Ucap Rena lagi, kali ini sudah terlihat air matanya membendung.
Dimas melihat air mata Rena yang sudah mengintip-ngintip ingin keluar dari tempat persembunyiannya. “Dia pergi kemana, Ren? Dia bodoh banget udah ninggalin kamu”.
Perlahan tangan Rena menghapus air mata yang membendung di matanya. Dia mencoba kuat untuk menjawab pertanyaan Dimas. “Dia udah tenang di keabadiannya”. Walau sakit karena teringat tentang Bagas tapi Rena tetap saja tersenyum.
“Maaf, Ren. Aku nggak maksud…” Ucapan Dimas terpotong karena jari telunjuk Rena sudah mendarat di mulutnya.
“Nggak ada pertemuan yang nggak berakhir dengan perpisahan kan?” Ucap Rena seperti bertanya pada Dimas. “Aku cuma nyesel aja belum bilang makasih sama aku sayang dia. Aku nggak pengen kamu kaya’ aku, ungkapin sayangmu ke Ririn sebelum dia bener-bener pergi jauh dari hidupmu”.
“Dia udah pergi kok. Tadi pagi dia pergi ke Bandung. Nggak tahu deh kapan balik kesini”. Jawab Dimas.
“Susul dia dong, Dim”.
“Nunggu dia balik aja deh”.
“Kamu salah. Tunjukkin ke dia kalau kamu serius, tunjukkin kalau cintamu ngga dibatasi sama jarak”. Jawab Rena sambil memegang kedua pundah Dimas erat-erat.
“Ikut ya, Ren?” Ajak Dimas.
“Boleh kok, Dim.” Jawab Rena sambil memberi senyumnya lagi. Sudah tak terhitung berapa kali ia tersenyum.
Dimas tersenyum juga. “Maafin aku dulu jauhin kamu, Ren. Aku kira kamu udah ngga care sama aku semenjak kita kelas sembilan. Kan waktu itu kamu famous banget di sekolah”. Ucap Dimas menjelaskan masalah yang terjadi di antara dia dan Rena.
“Nggak apa kok. Aku yang salah”. Jawab Rena.
Mereka berdua pun mengabadikan moment ini di dalam kamera DSLR milik Rena. Setelah itu Dimas mengajak putar balik ke tempat sekumpulan anak muda waktu perjalanan tadi sebelum sampai ke jembatan ini. Setelah tiba di tempat sekumpulan anak muda tadi, mereka berdua hunting foto lagi. Setelah itu mereka turun ke Pacet, mereka makan disana dan tak lupa juga hunting foto lagi. Sudah hampir enam tahun mereka tidak sedekat ini hanya karena salah paham di antara mereka, sekarang persahabatan mereka muncul seperti dulu lagi.
*****
Sepulang dari Pacet dan Cangar, Dimas langsung rebahan di atas kasur. Capek, seneng, kagum campur jadi satu. Dia seakan kembali ke masa kecilnya dulu, kemana-mana selalu sama Rena. Sosok Rena yang dulu sempat dia anggap hilang sekarang sudah kembali menyempurnakan hidupnya. Jujur saja, Rena dulu adalah tempat Dimas mencurahkan isi hatinya. Tanpa Rena, masalah yang dia punya dipendamnya sendiri.
Tiba-tiba saja Dimas ingat dengan kata-kata Rena bahwa Dimas harus nyusulin Ririn ke Bandung. Diambil handphone-nya di bawah bantal. Dia cari nama kakaknya Ririn – Satria, di dalam kontak hapenya.
“Sat, aku minta alamat rumahmu yang di Bandung dong?” lalu sent.
Dan tak lama kemudian Satria membalas.
 “Buat apa’an?”
“Adikmu ke Bandung. Tapi tumben ngga pamit aku, aku lagi ada masalah nih sama Ririn. Aku mau ke Bandung njelasin semuanya ke Ririn”. Balas Dimas.
“Lho adekku ke Bandung? Kok dia ngga kasih kabar ya, ini aku masih di kerja jadi belum ketemu dia. Emang lo ada masalah apaan?”
Dimas menjelaskan semuanya, mulai dari dia berbohong kalau Rena pacarnya sampai Ririn pergi ke Bandung tiba-tiba. Lalu satria membalas.
“Oalah, iya udah deh bos. Berangkat aja kesini, tunjukkin cintamu. Gue dukung lo 100% :)) ini alamat rumah gue Jl. Mawar no. 12, Perumahan Griya Bakti.”
Setelah itu Dimas langsung bergegas ke bandara untuk memesan tiket. Tiket yang tersisa dan jadwal keberangkatannya paling cepat hanya tiket pesawat yang berangkat lima hari lagi. Dimas akhirnya membeli tiket itu – termasuk untuk Rena.
*****
Di rumah Satria, Bandung.
Satria baru saja pulang dari kerjanya. Dia bekerja di perusahaan milik keluarganya, setelah lulus SMA dia disuruh meneruskan bisnis keluarganya yang ada di Bandung tetapi dia juga menyambi kuliah sore hari.
Sudah dua hari Ririn berada di Bandung. Setiap kali Satria tanya apa alasan Ririn pergi ke Bandung tiba-tiba tanpa ngasih kabar, jawabannya selalu “Sureprice dan liburan”. Satria sebenarnya sudah tahu apa masalahnya, hanya saja dia juga ingin tahu cerita versi adiknya.
Dan kali ini Satria memojokkan adiknya. “Dek, aku tau kok masalahmu. Kamu jujur dong sama kakak, masa’ tiap kakak tanya kamu mesti bohongin kakak sih?” Ucap Satria yang juga tidak suka kalau adiknya cuma diam sambil dengerin musik galau.
Ririn menoleh. “Kalau kakak tau, kenapa masih tanya sih? Bikin nyesek juga”. Jawab Ririn. Terlihat jelas di matanya kalau Ririn memendam sakit yang benar-benar dalam.
Satria bisa melihat kesakitan hati Ririn. Dia duduk di sebelah Ririn, menyandarkan kepala Ririn di bahunya. “Nangis aja, Rin. Kakak nggak pengen kamu pendem itu semua sendirian. Disini ada kakak.” Satria membelai rambut panjang adiknya.
Ririn menangis saat itu juga. “Aku sayang kak Dimas. Tapi kenapa kak Dimas malah ngecewain Ririn sih?”
Satria juga tidak menyalahkan Dimas, karena Satria tahu kalau Dimas sangat menyayangi adiknya. Bahkan Dimas juga sudah berulang kali ditolak adiknya. “Kamu juga sih, dek. Kalau sayang kenapa kamu tolak terus sih? Nggak salah Dimas juga dong. Kalian kan udah bertahun-tahun PDKT, kamu kurang yakin apa sama Dimas? Tiap nolak Dimas, ya itu-itu aja alasan yang kamu kasih. Alasan yang asli itu apa sih dek? Kakak nggak yakin kalau itu alasannya. Dimas udah ngorbanin semuanya demi kamu”.
Tiba-tiba Ririn terjatuh di pangkuan Satria. Ririn pingsan dan Satria langsung membawa adiknya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Ririn langsung masuk ruang UGD. Setelah dokter memeriksanya, dokter itu langsung menemui Satria.
“Jantung adik anda kambuh, Mas. Dia harus segera mendapatkan donor jantung.” Kata Dokter yang menangani Ririn baru saja.
Satria lemas. Dia bingung harus bagaimana. Dia baru saja teringat kalau adiknya mempunyai penyakit jantung sejak kecil. Dan ternyata penyakit itu sekarang sudah makin parah.
*****
Di Surabaya.
Rena dan Dimas terus berkeliling kota Surabaya tanpa henti. Meskipun sebenarnya keduanya sudah pernah mengunjungi tempat-tempat yang berada di Surabaya – sering malah. Tapi kali ini menurut mereka spesial, karena mereka mengunjungi tempat itu berdua.
Saat mereka sedang makan sambal penyetan di warung pinggir jalan tiba-tiba saja hape Dimas bergetar, pertanda sms masuk. Dibukanya sms tersebut, ternyata dari Satria.
“Dim, adek gue masuk rumah sakit. Kata dokter dia butuh donor jantung sekarang!”
Dimas bingung harus bagaimana. Dia merasa dunia tak berpihak padanya sekarang. Pandangannya kosong, makanannya pun tak disentuh lagi – seperti kehilangan nafsu. Rena yang melihat Dimas seperti itu langsung mengambil handphone yang masih dipegang oleh Dimas. Dibacanya juga sms yang masih terbuka di layar handphone Dimas.
“Kita berangkat ke Bandung sekarang yuk, Dim” ucap Rena.
Dimas menoleh. “Tapi pesawatnya masih tiga hari lagi, Ren. Duitku udah habis juga buat beli tiket kemarin”.
“Kita naik ini aja”. Jawab Rena sambil menunjukkan kunci sepeda motor kesayangannya.
“Gilamu. Ngga sanggup aku nyetir sampe’ Bandung”.
“Gantian nanti”.
Dimas terkadang tidak habis fikir dengan ide gila dan nekatnya Rena. Tapi Dimas tetap saja mengikuti ide gila Rena itu. Ya, semua itu demi Ririn.
Karena nafsu makan Dimas hilang, Rena mengajaknya untuk pulang ke rumah dan mempersiapkan diri untuk perjalanan besok.
Keesokkan harinya. Dengan membawa baju seadanya mereka berangkat menuju Bandung naik sepeda motor. Selama perjalanan mereka hanya berhenti untuk makan. Karena target mereka adalah bisa sampai Bandung dalam waktu sehari.
Keesokkan harinya, mereka sudah sampai di Bandung. Dimas langsung menelfon Satria.
“Halo, aku di Bandung. Kamu di rumah sakit mana?” Celetuk Dimas seketika telfonnya diangkat.
“Bukannya besok berangkatmu?”
“Udah cepetan. Aku pengen ketemu Ririn sekarang!”
“Di rumah sakit Bintang Kasih”.
Rena langsung menyalakan GPS di handphone-nya untuk mencari tahu letak rumah sakit Bintang Kasih.
Setibanya Rena dan Dimas di rumah sakit. Dimas langsung berlari ke kamar Ririn yang sudah diberitahu oleh suster – tak lupa Rena selalu di belakangnya.
Di kamar Ririn, terlihat Satria sedang duduk di sebelah kasur Ririn.
“Satria”. Sapa Dimas.
“Dimas”. Jawab Satria.
Ririn pun menoleh. “Kak Dim”. Panggilnya lirih.
Dimas langsung mendekati Ririn. Dia genggam tangan Ririn. “Ririn, maafin aku. Aku bohong ke kamu. Rena bukan pacarku, dia sahabat kecilku. Aku cuma sayang kamu. Aku nyesel, pasti gara-gara aku kamu jadi kaya’ gini”. Ucap Dimas. Dia tak peduli air matanya menetes. Karena air mata ini adalah bukti cintanya ke Ririn.
“Iya, Kak. Nggak apa kok. Lagian aku kaya’ gini emang udah waktunya. Dan ini alasanku kenapa aku nggak pernah nerima kakak. Aku nggak mungkin bisa nemenin kakak terus”. Jawab Ririn, dia juga menangis di depan Dimas.
“Kamu pasti bisa bertahan, Rin. Demi aku, kamu pasti bisa”. Ucap Dimas menguatkan hatinya dan Ririn. Jujur saja, Dimas sangat takut kehilangan Ririn.
“Aku mau pergi jauh, kak. Kakak jaga diri kakak ya. Aku seneng bisa kenal kakak”.
Dan kemudian mata Ririn terpejam, denyut nadinya berhenti. Baru saja nafas terakhir Ririn berhembus. Dimas sangat terpukul atas kejadian ini. Satria mencoba tegar dan kuat melihat kenyataan ini. Ririn adalah adik satu-satunya yang dia punya, dan sekarang dia telah pergi.
Rena mengajak Dimas keluar. Rena mencoba menguatkan hati Dimas. Rena tahu betul sakitnya dimas seperti apa karena dia dulu juga pernah merasakannya.
“Dim. Jangan nangis. Kamu harus ikhlas”. Ucap Rena sambil mengelus pundak Dimas.
Dimas menoleh ke Rena. Wajahnya memerah karena menangis. “Jangan nangis katamu! Ririn itu pergi ninggalin aku selamanya!” Jawab Dimas dengan nada tinggi.
“Aku juga pernah kaya’ kamu! Aku paham betul rasa sakitmu, tapi seenggaknya kamu masih bisa ngomong sayang sama Ririn. Kamu masih bisa ngobrol sama dia sebelum dia bener-bener pergi, Dim! Sedangkan aku? Aku ngga ada kesempatan buat ngobrol yang terakhir kalinya sama Bagas”. Jawab Rena dengan nada tinggi juga.
Dimas sadar, kepergian Ririn memang sudah takdir. Dimas tidak boleh terpuruk, dia harus kuat. Dimas merasa iba dengan Rena, dia tau Rena sangat merindukan sosok Bagas di hidup Rena. Dimas merangkul Rena. “Sudah, Ren. Jangan nangis. Aku yakin Bagas itu juga sayang kamu kok”. Dimas menghapus air mata Rena, dia mengelus pundak Rena seperti yang dilakukan Rena tadi terhadapnya.
“Bagas meninggal itu karena salahku, Dim. Andai aku nggak nyuruh dia jemput aku pulang sekolah waktu itu, dia pasti nggak bakal kecelekaan”. Ucap Rena.
Dimas terus menguatkan sahabatnya. “Ren, barusan kamu yang nyadarin aku kalau nggak ada pertemuan yang nggak berakhir dengan perpisahan. Kamu kudu kuat, Ren”. Ucap Dimas sambil terus mengelus pundak Rena.
Di dalam rangkulan Dimas, Rena tersenyum. “Iya”.
*****
“Kak Dim, terima kasih atas semuanya”. Ucap Ririn. Dia memakai pakaian serba putih sambil melemparkan senyumannya kepada Dimas.
“Dim, titip Rena ya”. Ucap seorang laki-laki yang Dimas tidak kenal. Menurut Dimas, laki-laki ini adalah Bagas. Laki-laki ini memakai pakaian serba putih juga, tak lupa dia juga tersenyum kepada Dimas.
Dimas langsung terbangun dari tidurnya. Ternyata Ririn dan laki-laki itu hanya mimpi. Dimas langsung mengambil handphone-nya dan menelfon Rena. Dia tiba-tiba ingat dengan Rena karena kata laki-laki di mimpinya tadi.
“Eh, Dim. Kebetulan kamu telfon. Aku mau cerita nih”. Celetuk Rena saat mengangkat telfon dari Dimas.
“Sama aku juga mau cerita, Ren”.
“Aku mimpi ketemu Bagas sama Ririn, mereka pakai baju putih-putih. Horor juga sih sebenernya. Tapi seneng deh, udah lama juga ngga ketemu Bagas”. Rena terdengar bahagia bermimpi Bagas.
“Aku juga mimpi Ririn, ada satu cowok juga di mimpiku. Mungkin itu Bagas kali’ ya. Dia nitipin kamu ke aku, Ren”.
“Wah kok sama sih? Eh Bagas bilang dia sayang aku lho”. Terdengar Rena sangat girang sekali saat menceritakan mimpinya. Padahal itu hanya mimpi, bagaimana kalau kenyataan?
Dimas tertawa mendengar suara Rena yang menjadi lucu di telinganya. “Haha, mungkin itu perasaan Bagas yang asli”.
Rena pun tertawa juga. “Hehe, iya mungkin. Ya udah deh, Dim. Aku ngantuk lagi nih, hehe”.
“Iya deh. Nice dream ya, Ren.”
Nice dream juga, Dim”. Lalu Dimas menutup telfonnya. Dimas dan Rena melanjutkan tidur mereka. Mereka melewati malam ini dengan lengkungan senyum di bibir mereka.
Mereka berdua menjalani hari-hari mereka dengan bahagia sekarang. Mereka ikhlas dengan kepergian Ririn ataupun Bagas. Karena dengan keikhlasan mereka, orang yang mereka cintai itu akan tenang di alam sana.
 


-SELESAI-